MEDIA DAN KRISIS : Perencanaan Manajemen Krisis Dengan Pendekatan Manajemen Strategis

20 05 2011

Pendahuluan

Pendahuluan Kata krisis selalu identik sesuatu yang menakutkan, ketidaknyamanan dan ketidaktentuan. Setiap orang pasti enggan membicarakan krisis ketika pada posisi kejayaan karena takut membayangkan kegagalan, kejatuhan, kemiskinan dan sulit bangun serta butuh waktu bertahun-tahun lagi untuk bangkit dan memulai dari nol. Tentu saja kekhawatiran tersebut cukup beralasan, namun melihat dari unsur-unsur krisis yang merupakan sesuatu yang tidak bisa diprediksi, bersifat tiba-tiba, mengandung unsur ancaman kelangsungan organisasi dan butuh keputusan cepat, maka mempersiapkan secara dini langkah-langkah strategis bila sewaktu-waktu terjadi merupakan salah satu upaya mempertahankan kelangsungan organisasi. Sebagai contah mutakhir adalah musibah banjir yang melanda Jakarta karena tidak diantisipasi dengan baik membawa dampak yang signifikan terhadap denyut nadi bisnis di Jakarta. Banyak organisasi yang terganggu aktivitas bisnisnya, mulai yang ringan seperti gangguan listrik dan telekomunikasi, sampai lumpuhnya kegiatan karena kantor atau fasilitas yang terendam air dan berhenti aktifitas produksi. Dengan terganggunya proses bisnis normal menyebabkan anggota organisasi kesulitan untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi organisasi yang ada, dan dengan demikian dapat dikategorikan sebagai krisis. Kejadian buruk dan krisis yang melanda dunia bisnis dapat mengambil beragam bentuk. Mulai dari bencana alam, seperti banjir, tsunami yang baru saja terjadi Jepang (Maret 2011), musibah teknologi (kebakaran, kebocoran nuklir, kebocoran zat-zat berbahaya) sampai kepada karyawan yang mogok kerja. Segala kejadian buruk dan krisis berpotensi menghentikan proses normal organisasi yang telah dan sedang berjalan, sehingga membutuhkan penanganan yang segera (immediate treatment) dari pihak manajemen. Penanganan yang segera ini sering disebut sebagai manajemen krisis (crisis management). Dan saat ini, kajian manajemen krisis telah dinobatkan sebagai new corporate discipline. Manajemen krisis adalah respon pertama organisasi/perusahaan terhadap sebuah kejadian yang dapat merubah jalannya operasi bisnis yang telah berjalan normal. Pendekatan yang dikelola dengan baik untuk kejadian itu terbukti secara signifikan sangat membantu meyakinkan para pekerja, pelanggan, mitra, investor, dan masyarakat luas akan kemampuan organisasi melewati masa krisis. Berdasarkan catatan Gartner.com diperkirakan hanya 85% dari perusahaan-perusahaan Global 2000 yang membuat rencana penanganan krisis dan hanya 15% saja yang menyusun rencana bisnis yang lengkap. Fakta ini menunjukkan masih banyak bisnis maupun organisasi yang belum memperhitungkan beragam krisis yang mungkin terjadi dalam perencanaan organisasi/bisnis mereka . Menurut Susanto terdapat enam aspek yang mesti diperhatikan jika hendak menyusun rencana organisasi/bisnis yang lengkap, yaitu tindakan untuk menghadapi situasi darurat (emergency response), skenario untuk pemulihan dari bencana (disaster recovery), skenario untuk pemulihan bisnis (business recovery), strategi untuk memulai bisnis kembali (business resumption), menyusun rencana-rencana kemungkinan (contingency planning), dan manajemen krisis (crisis management) . Ketika terjadi keadaan krisis tentu dibutuhkan media penyaluran informasi yang tepat untuk memberikan informasi tentang proses penanganan krisis. Karena dalam situasi semacam ini keingintahuan publik terhadap krisis tersebut sangatlah besar. Sebagai misal ketika pesawat Adam Air terjadi kecelakaan di Perairan Sulawesi dan disusul kemudian Garuda di Yogyakarta pada tahun 2009. Semua media massa memberitakan kejadian tersebut dan publik terus memantau perkembangan penanganan kejadian tersebut, tentu saja maskapai kedua penerbangan tersebut menganggap kejadian tersebut sebagai situasi krisis yang harus ditangani secepatnya karena menyangkut reputasi, citra dan kepercayaan publik dan seluruh stakeholder untuk menggunakan kedua jasa transportasi tersebut. PT Garuda melalui situs resminya langsung menayangkan informasi kecelakaan tersebut hanya terpaut 2 jam 27 menit dari kejadian, bahkan pada saat yang sama dimuat pula informasi mengenai pemberian layanan penerbangan khusus untuk keluarga korban. Tidak lupa, ditampilkan pula nomor kontak khusus untuk keluarga korban. Kemudian, informasi mengenai status penumpang pesawat yang kecelakaan juga dipublikasikan pada malam harinya berikut nama-nama korban yang telah teridentifikasi. Adam Air juga melakukan hal yang sama termasuk penyampaian daftar penumpang pesawat. Manifes langsung dimuat di situsnya begitu terjadi kecelakaan. Dari kedua kejadian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa media sangat membantu besar dalam menanggulangi krisis yang tengah terjadi terutama dalam mempertahankan reputasi dan kelangsungan organisasi. Yang tujuannya meyakinkan kepada publik dan stakeholder bahwa dalam menghadapi situasi yang kritis tersebut, organisasi telah menyiapkan langkah-langkah strategis sekaligus untuk menyatakan bahwa organisasi dalam kondisi yang baik-baik saja tidak terpengaruh sedikitpun terhadap kejadian krisis yang berlangsung. Krisis bukanlah suatu yang harus dihindari namun hanya bisa diantisipasi. Perencanaan yang matang dengan menganalisis ancaman yang berupa krisis yang kemungkinan terjadi dimasa datang baik dekat atau jauh tentulah sangat penting dilakukan karena akan membantu dalam penyusunan program antisipasi ketika situasi kritis betul-betul terjadi dan membantu organisasi supaya tidak panik dan tidak melakukan upaya defensif yang justru akan memperburuk situasi. Yang dibutuhkan adalah pengelolaan dan penanggulangan krisis yang tepat sehingga tidak mempercepat keterpurukan dan mengembalikan reputasi dan kejayaan organisasi seperti sediakala. Pemahaman Krisis dan Urgensi Manajemen Krisis Secara sederhana krisis dapat dipahami sebagai suatu kejadian besar dan tidak terduga (unpredictable) yang memiliki potensi untuk berdampak negatif maupun positif. Kejadian ini bisa saja menghancurkan organisasi dan karyawan, produk, jasa, kondisi keuangan dan reputasi . Sementara menurut Steven Fink krisis merupakan keadaan yang tidak stabil dimana perubahan yang cukup signifikan mengancam, baik perubahan yang tidak diharapkan ataupun perubahan yang diharapkan akan memberikan hasil yang lebih baik . Organisasi yang memikirkan dampak negatif yang mungkin ditimbulkan dari suatu krisis akan berusaha untuk mempersiapkan diri sebelum krisis tersebut terjadi. Bahkan ada peluang dimana organisasi dapat mengubah krisis menjadi suatu kesempatan untuk memperoleh dukungan publik. Penyebab krisis bisa terjadi apabila ada benturan kepentingan antara organisasi dengan stakeholdernya karena tidak ada kesamaan persepsi dalam suatu hal atau terkurangi salah satu aspek yang diinginkan dari kedua belah pihak. Namun penyebab umum yang sering menjadikan krisis adalah pertama, karena adanya gangguan kesejahteraan dan rasa aman diantara kelompok masyarakat baik dalam skala kecil atau besar, kedua, sudah terabaikannya rasa tanggung jawab sosial dan hilangnya kepercayaan publik terhadap pemegang kebijakan . Dalam skala lebih spesifik terutama dalam sebuah organisasi nirbala biasanya krisis itu muncul karena disebabkan oleh kesalahan pengelolaan, terjadinya penurunan profit yang tajam, adanya penyelewengan, terjadinya perubahan permintaan pasar, kegagalan pemasaran yang berakibat pada penarikan produk secara besar-besaran, adanya perubahan kebijakan regulasi oleh pemerintah dan deregulasi, seringnya terjadi kecelakaan dan terjadinya bencana alam yang menimpa organisasi. Dalam mengidentifikasi krisis, Steven Fink mengidentikkan suatu krisis seperti layaknya penyakit yang menyerang tubuh manusia. Terminologi yang digunakannya untuk mendiagnosis gejala krisis sama seperti terminologi yang digunakan dalam dunia kedokteran untuk mengukur tingkat atau stadium suatu krisis . Tahap-tahap tersebut (lihat. gambar 1) adalah tahap prodromal, tahap akut, tahap kronik, tahap resolusi (penyembuhan). Setiap tahap yang satu dengan tahap berikutnya saling berkaitan dan berhubungan, bahkan tahap yang satu sangat berdampak pada tahap berikutnya apabila tidak ada penangan yang cepat dan akurat sehingga akan membentuk satu siklus yang terus berlanjut dan berulang. Berlangsungnya setiap tahap tidak dapat diukur dengan waktu tergantung pada variabel yang mengikatnya.

Krisis pada tahap prodromal dapat dikategorikan sebagai gejala krisis. Pada tahap ini biasanya segala kejadian yang bisa berpotensi menjadi krisis sering tidak dianggap bahkan dilupakan, karena organisasi tampak masih bisa beroperasi dan bergerak lincah seakan akan tidak ada masalah. Padahal pada tahap ini krisis sudah mulai muncul sehingga dapat dikatakan tahap prodromal sebagai sebuah early warning bagi organisasi karena sinyal-sinyal akan terjadinya bahaya sudah nampak dan harus segera diatasi. Kegagalan manajemen dalam menangkap sinyal ini akan berdampak pada pergeseran ke tahap berikutnya yakni akut. Sebagai contohnya adalah muncul selebaran gelap, karyawan datang pada manajemen untuk minta kenaikan upah atau terjadi perbedaan pendapat antar manjemen, ada peraturan pemerintah (regulasi  dan deregulasi), munculnya pesaing baru dalam bidang yang sama.

Tahap berikutnya adalah tahap akut. Krisis pada tahap ini meskipun tidak dikategorikan sebagai awal mulanya krisis, namun dianggap suatu krisis dimulai dari sini karena gejala yang samar-samar atau sama sekali tidak jelas itu mulai kelihatan jelas. Dalam banyak hal, krisis akut ini sering disebut sebagai the point of no return, artinya, sudah tidak ada kesempatan lagi untuk kembali memperbaiki keadaan mengingat sinyal-sinyal yang muncul pada tahap peringatan (prodromal) tidak digubris atau diindahkan, sehingga tidak bisa kembali lagi. Indikator munculnya krisis pada tahap ini adalah kerusakan sudah mulai bermunculan, reaksi mulai berdatangan, isu menyebar luas. Salah satu kesulitan besar dalam menghadapi krisis tahap akut ini adalah intensitas dan kecepatan serangan yang datang dari berbagai pihak. Kegagalan dalam menangani krisis juga akan terus berlanjut pada tahap kronis.

Krisis tahap kronis. Pada tahap ini, organisasi sudah merasakan dampak atau akibat dari krisis tahap akut, bahkan dampak dari segi  waktu tidak dapat diprediksi kapan berakhirnya. Organisasi mulai melakukan intropeksi diri besar-besaran, sehingga biasanya dilakukan analisis internal secara menyeluruh terhadap gejala maupun sumber masalah baik secara struktural dan non struktural serta melakukan upaya-upaya perbaikan total (reformasi) dengan membuat kebijakan-kebijakan strategis untuk memperbaiki keadaan sehingga pada tahap ini sering disebut sebagai tahap recovery atau self analysis.

Setelah dilakukan analisis internal dan dilakukan upaya-upaya perbaikan maka akan masuk ke tahap resolusi (Penyembuhan). Tahap ini adalah tahap penyembuhan (recovery) dan tahap terakhir dari 4 tahap krisis. Masa ini adalah masa perusahaan sehat kembali seperti keadaan sediakala. Pada fase ini perusahaan akan semakin sadar bahwa krisis dapat terjadi sewaktu-waktu dan lebih mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Krisis adalah situasi yang merupakan titik balik (turning point) yang dapat membuat sesuatu tambah baik atau tambah buruk. Menurut Djamaluddin Ancok, jika dipandang dari kaca mata bisnis suatu krisis akan menimbulkan hal-hal seperti berikut :

  1. Intensitas permasalahan akan bertambah.
  2. Masalah akan dibawah sorotan publik baik melalui media masa, atau informasi dari mulut ke mulut.
  3. Masalah akan menganggu kelancaran bisnis sehari-hari.
  4. Masalah menganggu nama baik perusahaan.
  5. Masalah dapat merusak sistim kerja dan menggoncangkan perusahaan secara keseluruhan.
  6. Masalah yang dihadapi disamping membuat perusahaan menjadi panik, juga tidak jarang membuat masyarakat menjadi panik.
  7. Masalah akan membuat pemerintah ikut melakukan intervensi[1]

Kesadaran akan dampak yang ditimbulkan oleh krisis sekaligus lemahnya dalam mengantisipasi datangnya sebuah krisis, menjadikan perlunya langkah-langkah antisipatif dalam sebuah kerangka kerja yang disebut manajemen krisis.

Manajemen krisis adalah proses yang membahas organisasi dengan sebuah peristiwa besar yang mengancam merugikan organisasi, stakeholders, atau masyarakat umum. Ada tiga elemen yang paling umum untuk mendefinisi krisis: ancaman bagi organisasi, unsur kejutan, dan keputusan waktu singkat. Berbeda dengan manajemen risiko, yang melibatkan menilai potensi ancaman dan menemukan cara terbaik untuk menghindari ancaman. Sementara manajemen krisis berurusan dengan ancaman yang telah terjadi. Jadi manajemen krisis dalam pengertian yang lebih luas merupakan sebuah keterampilan teknis yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi, menilai, memahami, dan mengatasi situasi yang serius, terutama dari saat pertama kali terjadi sampai ke titik pemulihan kembali.

Untuk itu, selama proses penyusunan manajemen krisis, sangat penting untuk mampu mengidentifikasi jenis krisis dalam berbagai situasi yang berbeda-beda dan menggunakan berbagai macam strategi manajemen krisis yang berbeda. Perlu diketahui memprediksi krisis memang sangat sulit, tapi mengidetifikasi macam-macam krisis sangatlah mudah dan bisa dikelompokkan. Lerbinger[2] mengkategorikan ada tujuh jenis/tipe krisis :

  • Bencana alam
  • Teknologi krisis
  • Konfrontasi
  • Kedengkian (Malevolence)
  • Krisis karena Manajemen yang Buruk (Crisis of skewed management value)
  • Krisis adanya penipuan (deception)
  • Kesalahan manajemen (management misconduct)

Bencana alam atau Krisis alam yang sering dianggap sebagai tindakan dan kehendak Tuhan (the act of God) merupakan fenomena lingkungan seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, tornado, badai, banjir, tanah longsor, tsunami yang mengancam kehidupan, harta, dan lingkungan itu sendiri.

Krisis Teknologi merupakan krisis yang timbul atau terjadi akibat aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi (application of science). Bencana tehnologi biasanya terjadi apabila terjadi kesalahan satu sistem yang mengakibatkan gangguan pada sistem yang lain sehingga merusak keseluruhan tehnologi. Krisis teknologi sering terjadi karena kesalahan manusia (human error) mengingat semakin kompleksnya jalinan antar sistem tehnologi. Ketika terjadi bencana tehnologi, orang selalu mudah dan cenderung menyalahkan tehnologi karena adanya kegagalan dalam sistem sebagai alasan pembenaran untuk menghindari pertanggungjawaban atas bencana terjadi.

Krisis konfrontasi terjadi ketika ada usaha perlawanan oleh individu atau beberapa individu kepada pemerintah dan atau kepada berbagai kelompok kepentingan untuk memenuhi tuntutan dan harapan mereka. Jenis umum krisis konfrontasi adalah berupa boikot, sabotase, pendudukan, ultimatum, blokade atas pembangunan pekerjaan dan demontrasi.

Sebuah organisasi menghadapi krisis kedengkian kalau ada pihak atau lawan saingan menggunakan cara-cara kriminal atau tindakan-tindakan ekstrim lainnya seperti berbuat represif dan mengancam untuk mengekspresikan permusuhan, kemarahan dan ketidaksukaan dengan tujuan membuat situasi menjadi tidak stabil baik kepada negara, organisasi, perusahaan, atau sistem ekonomi supaya sistem tidak berjalan. Contoh krisis yang termasuk dalam kategori ini adalah tindakan terorisme, premanisme, perusakan produk, penculikan, menyebarkan rumor, dan aksi spionase.

Krisis selanjutnya adalah krisis karena kelakuan buruk organisasi. Krisis ini terjadi ketika manajemen mengambil tindakan yang sengaja akan merugikan stakeholder  tanpa memperdulikan resiko atas tindakan yang dilakukannya. Lerbinger membagi ada tiga jenis krisis kelakuan buruk organisasi, yaitu krisis nilai manajemen yang miring (skewed of management value), krisis penipuan (deception), dan krisis kesalahan manajemen (misconduct)[3].

Pertama, Krisis nilai-nilai manajemen yang miring muncul saat manajer membuat kebijakan demi keuntungan ekonomi jangka pendek dan mengabaikan nilai-nilai sosial yang lebih luas seperti investor dan para stakeholder.

Kedua, Krisis penipuan terjadi ketika manajemen menyembunyikan atau salah mengartikan informasi tentang dirinya sendiri dan produknya kepada para konsumennya.

Ketiga, Beberapa krisis tidak hanya disebabkan karena adanya nilai-nilai miring manajemen dan penipuan melainkan juga karena adanya perbuatan melawan hukum yang disengaja dilakukan atau bertindak ilegal.

Peran Media di Masa Krisis

Di era informasi seperti sekarang ini semua aspek kehidupan tidak dapat dilepaskan dari media. Ketergantungan akan media sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidup manusia, karena media merupakan sumber dan pengolah informasi yang dibutuhkan masyarakat. Bahkan menurut Dennis McQuill media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan citra realitas sosial tetapi bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif[4]. Informasi yang disajikan media telah cukup membantu dalam memenuhi keingintahuan orang terhadap suatu hal atau kejadian yang sedang berlangsung sekalipun tidak bisa merasakan atau melihat langsung. Dalam konteks informasi yang berkaitan dengan krisis, tentu saja intensitas perhatian orang akan meningkat dan akan selalu mengikuti informasi perkembangannya. Dalam hal ini, media akan menjadi satu-satunya sumber informasi untuk mengumpulkan, mengolah dan bahkan menafsirkan informasi. Karena sebagai satu-satunya sumber, media bebas mengarahkan kemana informasi ini ingin dibentuk apakah untuk membangun solidaritas, simpati, membangun kesadaran bersama (being together), atau mereduksi ketidaktentuan (uncertainity) dan ketakutan (fear) masyarakat[5]. Tentu saja hal itu tergantung pada jenis dan macam krisis yang terjadi. Namun yang jelas bahwa informasi yang berkaitan dengan krisis media mempunyai peran yang sangat besar dalam membentuk opini dan simpati publik.

Penelitian mengenai peran media massa di masa krisis telah banyak dilakukan oleh banyak ahli terutama ketika krisis sedang berlangsung. Pemberitaan media mengenai krisis yang tengah berlangsung sangat dibutuhkan banyak orang karena kemampuannya menyajikan informasi, interpretasi dan membangun solidaritas. Fungsi solidaritas yang dibangun oleh media dipandang tidak sekedar memerankan fungsi pengawas (watchdog) selama krisis berlangsung, namun juga fungsi membangun kesadaran tanggungjawab sosial (sosial responsibilty) diantara publik.

Perencanaan Manajemen Krisis  dalam Pendekatan Manajemen strategis

Manajemen strategis berangkat dari suatu pemikiran bahwa perkembangan dunia telah memasuki era globalisasi dengan ditandai semakin hilangnya batas negara (borderless)  sebagai akibat dari perkembangan tehnologi informasi yang kian pesat. Persaingan, perdagangan bebas dan isu krisis lingkungan hidup akibat eksploitasi lingkungan, pencemaran dan penurunan kualitas lingkungan telah menjadi isu global yang mengharuskan para pelaku organisasi mendesain ulang perencanaan strategis organisasi mereka.

Manajemen strategis yang didefinisikan sebagai seni dan ilmu untuk memformulasi, mengimplementasi, mengevaluasi keputusan lintas fungsi yang memungkinkan organisasi mencapai tujuan. Ini artinya manajemen strategis berupaya mengintegrasikan manjemen (keuangan, pemasaran, produks, organisasi, SDM dan krisis) dalam satu kesatuan sistem yang terimplementasi dalam sebuah “perencanaan strategik”[6].

Secara umum perencanaan strategi terdiri dari tiga tahap proses, yaitu formulasi strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi.

Pada tahap formulasi startegi ini, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

  • Melakukan identifikasi ancaman dan peluang (eksternal) kemudian internal yang berupa kekuatan, kelemahan yang akan mempengaruhi langsung maupun tidak langsung terhadap organisasi.
  • Menetapkan tujuan Manajemen krisis dalam jangka panjang
  • Merumuskan strategi
  • Menetapkan program-program strategis

Pada tahap implementasi strategi, langkah-langkah yang dilakukan adalah

  • membuat kebijakan,
  • mengalokasikan sumber daya sehingga strategi yang diformulasikan dapat dijalankan,
  • menciptakan struktur yang efektif,
  • menyiapkan anggaran,
  • mengembangkan dan memberdayakan sistem informasi

Dan sebagai alat utama untuk menilai apakah strategi telah berjalan atau belum sesuai yang diharapkan tahap berikutnya adalah melakukan evaluasi strategi yang meliputi :

  • Meninjau ulang faktor internal dan ekternal yang menjadi dasar srategi saat ini
  • mengukur kinerja
  • mengambil tindakan korektif

Dalam melakukan proses manajemen krisis melalui pendekatan manajemen strategis, maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

Formulasi Strategi

Dalam tahap formulasi ini, langkah utama dan pertama yang harus dilakukan adalah melakukan identifikasi isu-isu formulasi strategis organisasi yang meliputi:

  • Apa bidang utama garapan organisasi
  • Bagaimana kondisi sekarang tentang sumber daya
  • Apa yang harus dilakukan organisasi kedepan

Untuk menjawab pertanyaan mendasar ini perlu dilakukan identifikasi internal menyeluruh terhadap visi, misi, tujuan, identifikasi kekuatan dan kelemahan (internal analysis) termasuk mengidentifikasi bidang-bidang yang rawan menimbulkan krisis serta melakukan identifikasi peluang dan ancaman (external analysis) termasuk ancaman munculnya krisis yang kemungkinan terjadi di masa mendatang. Setelah itu melakukan perumusan alternatif strategi dan memilih strategi yang akan digunakan ketika krisis terjadi, sehingga terwujud program-program apa yang harus segera dilakukan manakala krisis menimpa organisasi.

Implementasi Strategi

Setelah proses formulasi strategi terumuskan maka tahap berikutnya adalah merencanakan implementasi strategi  yang akan digunakan sebagai bahan panduan untuk menanggulangi apabila krisis terjadi, meliputi:

  • Membuat kebijakan apabila krisis terjadi
  • Menetapkan program-program strategis penanggulangan krisis (emergency response program)
  • Memberi pengarahan tehnis dan langkah-langkah yang akan dilakukan apabila krisis terjadi kepada seluruh stakeholder internal maupun eksternal
  • Menyediakan alokasi anggaran khusus untuk crisis recovery
  • Menciptakan struktur tim krisis
  • Mengembangkan dan memberdayakan sumber dan media informasi

Hal diatas perlu dilakukan karena dalam manajemen krisis ada 4 proses penting yaitu: Perencanaan (planning), Penanggulangan cepat kejadian (Incident response), mengelola krisis (management crisis), keberlangsungan organisasi (business continuity).

Untuk itu, program-program implemetasi strategi manajemen krisis sebagian berisi mengenai tindakan untuk menghadapi situasi darurat (emergency response),  skenario untuk pemulihan dari bencana (disaster recovery), skenario untuk pemulihan bisnis (business recovery), strategi untuk memulai bisnis kembali (business resumption), menyusun rencana-rencana kemungkinan (contingency planning), dan mengelola krisis (crisis management).  Khusus untuk penanganan krisis karena bencana,  perlu dilengkapi  emergency response  plan (ERP) yang juga meliputi pembentukan sebuah tim yang terdiri dari para anggota dengan tanggungjawab tertentu ketika terjadi situasi darurat (emergency response team), alur tindakan pada situasi darurat (emergency flowchart) dan prosedur evakuasi. Emergency response plan ini harus didukung oleh general  emergency procedure (GEP)[7].

Pada hakekatnya dalam setiap penanganan krisis, organisasi perlu membentuk tim khusus.  Tugas utama tim manajemen krisis ini terutama adalah mendukung para karyawan organisai/perusahaan selama masa krisis terjadi. Kemudian menentukan dampak dari krisis yang terjadi terhadap operasi bisnis yang berjalan normal, dan menjalin hubungan yang baik dengan media untuk mendapatkan informasi tentang krisis yang terjadi.  Sekaligus menginformasikan kepada pihak-pihak yang terkait terhadap  aksi-aksi yang diambil perusahaan sehubungan dengan krisis yang terjadi. Hal ini bertujuan supaya organisasi mampu mempertahankan reputasi dan citra di mata publik dan stakeholder.

DaftarPustaka

 Dannise McQuill. 1987. Mass Communication Theory, Agus Dharma dan Aminuddin (Penerj) Jakarta : Erlangga

 Djamaluddin Ancok, Kiat Menghadapi Krisis Dalam Perusahaan dalam http://djamaluddin.ancok.com

Jemsly Hutabarat dan Martani Huseini. 2006. Manajemen Strategik di Tengah Operasional. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.

 Lerbinger. 1997. The crisis manager: facing risk and responsibility, New York : Erlbaum

Laurence Barton, 1993. Crisis leadership now: A real-world guide to preparing for threats, disaster, sabotage, and scandal. New York : McGraw-Hill

Steven Fink, 1986.Crisis management: Planning for the inevitable. New York : Backinprint.com

Susanto, Manajemen Krisis, http://www.jakartaconsulting.com/art-11-02.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Crisis_management (accesed on 24 Maret 2011)

www.adl.org/security/crisis%20management (accesed on 24 Maret 2011)

 

 http://www.jakartaconsulting.com/art-11-02.htm (accesed on 22 maret 2011)


[1] Djamaluddin Ancok, Kiat Menghadapi Krisis Dalam Perusahaan. http://ancok.staff.ugm.ac.id/h-12/kiat-menghadapi-krisis-dalam-perusahaan.html(accesed on 12 maret 2011)

[2] Lerbinger. The crisis manager: facing risk and responsibility, New York : Erlbaum, 1997, hal 230.

[3] Ibid.

[4] Dannise McQuill, Mass Communication Theory, Agus Dharma dan Aminuddin (Penerj) Jakarta : Erlangga, 1987, hal. 230.

[5] www.adl.org/security/crisis%20management (accesed on 24 Maret 2011)

[6] Manajemen strategik dan perencanaan strategik merupakan dua istilah yang sama makna dan pengertiannya, hanya manajemen strategik sering digunakan dalam bidang akademik di kampus; sementara perencanaan strategik digunakan untuk menjabarkan formulasi manajemen strategis dalam tahap implementatif.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: